Mimpi Tanpa Batas

Pagiku menjelang, malamku berlalu. Aku berunding dengan waktu menawar-nawar kegelisahan yang ku pikul. Aku terjaga sepanjang hari mengitar di sekitar luka-luka yang sedikit memar menjelang malam. Aku penuh dengan hal-hal rumit. Seharusnya jika aku melangkah lurus aku akan sampai di barat, tapi aku selalu memaksakan langkahku, aku mengitari selatan lalu ke utara, lalu ke tenggara, kemudian barat daya untuk ke timur. Entah bagaimana aku memiliki bakat untuk "merumitkan segalanya". 
Aku berlabuh di peluk senja, berdiam di persimpangan sore dan malam. Aku menghantar mentari kemudian menjemput bulan. berbincang tentang langit jingga penyadur luka, pengingat perih. Aku bercerita pada gelap pengumpul lara, pemendam sedu. 
Aku berlari menuju bintang, berjalan di antara mimpi dan masa lalu. Aku menari bersama ribuan cahaya gemintang. Aku tertinggal di lautan mimpi ini. aku dan ribuan gemintang yang mengaduk harapan dan kenyataan.
Aku terlalu asing di hadapan dunia, namun aku terlalu bersinar di semesta. ada batas antara mimpi dan kenyataan. Namun bagiku, satu-satunya batas adalah kenyataan. mimpi adalah nafas. Bagaimana dunia bisa tumbuh tanpa mimpi ?  


Medan, 21 Maret 2017
4:48 AM

Dv, Pengangum senja

Komentar

Postingan Populer