Aku Disanding Mimpi, Menentang Takdir

Kala waktu menjelang menghantarku pada masa-masa yang tak ku pahami, aku mencoba memaknai arti di balik setiap gundah. Aku berkelana mengitari semesta mencoba mencari sebuah arti. Aku menapaki kerikil dan pasir, aku disentuh angin dan air, aku bertengkar dengan badai dan panas. Aku melampaui batasan yang disebut-sebut itu. Aku mencari jalanku, dan aku menapakinya berteman sepi dan kesendirian. Aku memahami setiap masa yang tlah terlewat. Aku bertaruh darah untuk setiap asa yang akan ku wujudkan, dan pasti ku wujudkan. 
Aku melampaui takdirku. Lihatlah ribuan bekas luka di setiap tatapku. Entah dimana lagi luka harus ku letakkan. Aku kokoh karena jutaan perih yang ku emban. Aku tangguh karena jutaan pertarungan yang ku lewati. Aku percaya pada mimpi-mimpi bodohku karena mimpi takkan berkhianat. Sekeras apapun takdir menggertak, aku masih melangkah. Sepedih apapun luka membalutku, aku masih sanggup merangkak. Sekuat apapun badai menerjang, aku masih bisa bertahan. Aku tak beranjak. Aku tak kan gentar pada takdir. Aku mempercayai takdir, namun aku lebih percaya pada mimpiku. Aku siap meraung kesakitan, aku bisa menahan tetesan darah, aku tak kan mundur meski belulangku remuk. Aku punya mimpi bahkan di setiap kuku-kuku kecilku, bahkan di setiap tetes darahku, bahkan di setiap helai rambutku, bahkan di setiap inchi tubuhku.
Aku berteman dengan sepi dan disanding sedu sedan itu. Dunia semakin keras menghimpit, mencoba luluh lantahkan hasrat dan mimpi. Entah mengapa ketidak-tahu-dirian ku melawan dengan taringnya. 
Aku tlah mati berkali-kali, aku tlah hancur berkali-kali, aku tlah tersesat ribuan kali, sekali lagi mimpi menghidupkanku, sekali lagi mimpi menyembuhkanku, sekali lagi mimpi menuntun jalanku. Waktu terus mencoba mengekang langkahku, entah bagaimana kelak aku akan jatuh, aku masih punya sekali lagi mimpi yang akan melahirkanku kembali. Aku tergila-gila. Tergila-gila hingga ke nadi-nadi ku. Aku menjadi seliar angin, seberani air, sekeras badai, semenyeramkan takdir karena dari nadir hingga kepala aku dipenuhi mimpi-mimpi seberat semesta.
Ribuan kali tubuhku terhempas, aku masih akan berdiri jutaan kali. Bagaimana aku harus diam dan menerima takdir yang dielu-elukan itu? Sementara keyakinanku penuh pada mimpi dan hatiku. Mengapa aku harus menerima yang tak ingin ku terima? Sementara aku bisa melawan. Haruskah aku menurut pada suratan tangan Tuhan yang disebut-sebut kaum agamis ? Sementara Tuhan yang ku kenal memberi aku hak separuh untuk menentukan jalanku, Ia menyelesaikan bagianNya dan aku menyelesaikan bagianku. Bukankah Tuhan itu sendiri yang seharusnya dipercayai ketimbang teori-teori yang mengatasnamakan "Pemberian Tuhan"? 

Medan, 22 Maret 2017


Dv, pengagum senja 

Komentar

Postingan Populer