Aku & Ketidakmungkinan yang Dimungkinkan

Ketika waktu menjelang, mimpi silih berganti mencoba mengambil alih waktu dan kenyataan. Perlahan dentang berjalan, menyusur sudut hati, membungkus asa yang dengan segala hal tak masuk akal mencoba dimasukakalkan, memaksa disebut kemungkinan. Kemungkinan yang tak akan mungkin hanya sekedar alibi untuk menguatkan hati yang seakan-akan menunggu sedikit sentuhan agar jadi porak poranda. Lara mana lagi yang belum pernah menghampiri? Biarkan semua "ketidakmungkinan" ini tetap menjadi "ketidakmasukakalan". Kata apa lagi yang harus ku permainkan agar setiap kata denotasi terlihat seperti konotasi. Aku mencintai puisi seperti aku mencintai hidupku. Aku bermain dengan kata bersayap, bermaksud menuangkan "ketidakmungkinan" menjadi "kemungkinan", bermaksud menipu kenyataan agar terlihat sedikit lebih baik, bermaksud menguatkan hati yang lemah akan segala kenyataan. Namun, apakah coretanku sesuatu yang sia-sia? Ahh.. Bagiku mimpi adalah kenyataan yang akan ku raih entah esok, lusa, atau kelak. Apa salahnya aku mendahului kenyataan.
Hingga waktu kehilangan kenyataannya, aku tahu tak akan ada yang menunggu di luar sana. Menjadi pesakitan dalam kenyataan, menjadi objek dalam ketidakpastian, menjadi mimpi dalam kenyataan. Dan disini semua berawal dan akan berakhir. Hitam sebagai awal, putih yang terkemudian, dan abu-abu sebagai hasil akhir. Bukankah atas nama keadilan abu-abu adalah salah satu hasilnya? Hitam dilebur dengan putih menyisakan abu-abu yang memiliki hitam dan putih di dalamnya. Mungkin terlalu lancang bila disamakan dengan akulturasi. 
Haruskah aku bermain dengan kesendirianku? Haruskah aku haus akan perhatian dan pengertian? Aku membenci Karen Horney dengan segala teori memuakkannya. Haruskah aku membalas Freud dan teori Penis Envy -nya kemudian menyandingkannya dengan womb envy agar sang kaum pesakitan bersanding sejajar dengan sang kaum pemimpin. Hanya membuat segalanya makin buruk, entah di kenyataan ada lelaki yang menyandang gelar womb envy atau tidak, aku tetap muak pada alasan di balik tercetusnya womb envy. 
Atau haruskah kita semasuk akal Pavlov dan anjingnya? Bagaimanapun mimpi adalah kenyataan bagiku. Aku tak mau menjadi masuk akal, aku tak mau menjadi nonfiktif, Biarkan aku menjadi segala ketidakmungkinan yang akan ku mungkinkan kelak. Biarkan aku menjadi puisi yang terbang hingga keseribu masa dan menjadi nyata.



Medan, 3 Maret 2017
00:42 WIB

Devilia Margaretha

Komentar

Postingan Populer