Biarkan Senja Tiba Lebih Awal
Entah siapa yang
menungkapkan bahwa setiap pertemuan akan ada perpisahan, tapi hal ini sangat
mengganguku sebagai salah satu penghuni resmi di bumi ini. Lalu untuk apa
dipertemukan bila akan di pisahkan? Sebagai ujian? Apakah kita tidak bisa
setidaknya sekali saja lulus dari ujian-ujian aneh ini?
Aku hanya tahu ketika
aku bertemu aku akan menggenggam apa yang ingin ku genggam dan tidak akan bersikap
seperti pengecut. Saat aku melepas genggaman ku bukan karena aku mulai mengkhianati
kata-kata yang sudah ribuan kali ku ucap bahwa aku tidak akan merubah
prinsipku. Aku tak pernah berkhianat pada diriku, aku mencintai diriku. Saat tangan
ku mulai meregang hendak melepasmu, cepatlah genggam tanganku dan jangan
lepaskan. Saat tanganku berusaha mematahkan genggamanmu cukup rengkuh aku dan
seluruh hatiku. Barang ribuan kali aku berucap bahwa tanganku tak akan melepas
apa yang ku genggam karena hatiku berubah.
Genggamanku merenggang
karena kau mulai melemahkan hatimu padaku, aku ingin mematahkan genggamanmu
karena kau mulai jadi pengecut. Aku hanya benci jadi pesakitan di akhir kisah
ini. Aku benci ketika aku harus membiarkanmu berucap bahwa waktu yang kita
lalui sudah terlalu lama, aku tak mau dengar kau berkata kau mulai bosan
denganku, aku tak mau tunggu sampai kau mengatakan selamat tinggal. Aku menjaga
hati dan diriku dengan begitu baik.
Saat kau mulai
memalingkan wajahmu dariku meski tanganmu masih menggenggam tanganku, aku
memilih memenggal dan meninggalkan tanganku. Bagiku menerimamu dan memberimu
hatiku adalah yang tersulit, namun telah ku lakukan. Lalu, kau bahkan akan
pergi dan mengucap kata-kata dramatis di depan ku sebagai ganti hatiku?
Aku terlalu menempatkan
diriku di atas perasaanku. aku pernah memberi perasaanku dan membuang diriku,
tapi lagi-lagi lelucon melankolis yang penuh dengan kata-kata bermajas
meruntuhkan kesungguhanku. Aku tak akan menjadi bodoh untuk kesekian kalinya. Bila
kau memilih pergi aku akan berbalik dan pergi lebih dahulu, bila kau memilih
melepasku aku akan berhenti dan hidup dengan cara yang jauh lebih baik dari mu,
bila kau kehabisan perasaan yang disebut cinta itu untuk ku aku akan
mencampakkan perasaanku terlebih dahulu sebelum kau menyatakannya. Bahkan aku
punya caraku sendiri untuk menjaga diriku.
Aku tidak akan mengalah
pada seorang pengecut yang hanya bisa bersembunyi tanpa mengatakan apapun lalu
pergi. Aku tidak akan menangisi pecundang yang hanya berani menatap dari jauh. Pergilah
saat kau ingin pergi, tak akan ada tangan yang mencegahmu, tak akan ada rayu
yang menahanmu.
Aku bukan rumah yang
hangat, yang kelak bisa menjadi alasanmu pulang. Aku bukan tempat dimana kau
bisa masuk dan keluar sesukamu, saat kau masuk kau tidak boleh keluar lagi dan
saat kau pulang aku tak akan melepasmu pergi. Ketika kau memutuskan
meninggalkan aku., aku bukan lagi rumahmu, aku bukan lagi persinggahanmu.
Aku mengerti bahwa kita
sudah terlalu tua untuk saling mengucapkan selamat tinggal, untuk itu aku
memberimu pengecualian. Kita tak harus menghapal kata-kata dramatis itu untuk
setidaknya pergi secara lebih beretika. Aku terlalu tua untuk mendengar
kata-kata klise itu. Jadi aku melepasmu sebelum kau mengucapnya, jadi aku
membuangmu sebelum aku yg di buang, jadi aku memenggal tanganku yang tertinggal
di genggamanmu.
Medan, 6 Maret 2017
6:31 WIB
Bagus tulisannyaa😇
BalasHapuswaduhh maaci ten
Hapus