Kepada Hati: Yang Kepadanya Rinduku Pekat
Kala kelam di pelupuk mata..
Pantaskah hati menyambut mentari sementara pagi tak pernah menyapa?
Pantaskah hati merasa terik sedang siang tak pernah naik?
Pantaskah hati terhanyut lembayung sedang senja tak pernah ada?
Bisakah kita saling mendekap sementara ragamu tak tersentuh?
Siapakah pemilik bayangan yang mampu menembus ruang tak berdimensi ini?
Aku mencari
Bisakah aku merindu pada hati yang tak perna menjadi milikku?
Aku meradang
Debu pun tahu akan ketidakpantasannya menempel di sela ruang
Tapi aku terus saja tak tahu diri mengharapkan fajar terbit di bola mataku
Sedang pelangi hanya datang setelah hujan turun
Ahh,, lagi-lagi aku tak tahu malu mendamba mendung menghantammu sejak pagi
Bolehkah aku menjadi awan kala siangmu membakar kulitmu?
Bolehkah aku menjadi bintang saat malammu terlalu kelam?
Bolehkah aku menjadi ombak saat lautmu terlalu diam?
Bolehkah aku menjadi biru saat langitmu tertutup awan?
Aku tak lagi tahu batasku, aku terlalu terbenam dalam senjamu
Debur ombak kian berengsek menghantam karangku
Aku bergetar menahan elok lembayung yang terselip di tatapanmu
Debar apa yang kini menahanku hingga bagiku tak ada bayaran untuk ini?
Yang ku tahu aku telah beku. Dulu.
Lalu kenapa kini aku mendidih?
5 Okt 2017 (03:53 WIB)
Devilia Margaretha,
Pengagum senja
Gilaaaa!! Ini mendebarkannn!! Saya herann.. kenapa bisa kaye kerasa betul.. paparan nya perfektoooo!!! Saya merinding haruuu..! Seketika kaye de javu.. beuhhh! Keren kamu prottt!!
BalasHapuswaduhh.. ga ketinggian ini ngomennya. lebihn debar baca comment nya jadinya hahha
HapusKeren
BalasHapus