Senduku Mencekik

Aku terjaga sepanjang malam. Menghindar dari mimpi malamku. Aku melihat keinginan dan kenanganku beradu dalam mimpi kemarin malam. Aku terbangun dengan rasa berat. Terasa hampa disekujur tubuhku, Seakan menahan air mata yang belum juga tumpah, seolah menopang kaki yang belum juga tumbang. Seluruh jiwaku seolah mencoba menjaga diri dan menghindari pahit. Melindungi sang ego adalah jalan terbaik.
Berulangkali ku katakan pada hati untuk tidak mengungkitnya. Aku sudah cukup lama berusaha membungkam mataku agar tak bercerita tentang kepedihan. Aku tak lagi merasakan lidahku mungkin karena aku tlah membekukannya cukup lama. Aku mengikat hatiku untukku, agar tak seorang pun tahu. Aku menyandera mataku agar air mata tak tumpah di hadapan siapa pun. Biarlah ia tumpah hanya dihadapanku dan angin saja. Aku pun menikam lidahku secara perlahan, membuatnya beku hingga tak bisa berucap lagi. Layaknya ia hanya berbicara pada bayanganku saja. Tak perlu berhadapan dengan dunia dan berkisah. Cukup bayangku yang mendengar karena bayang tak akan bisa protes  apalagi berucap “sabar ya” atau “jangan menyerah” padaku.
Aku mendekap luka dipelukan. Bukan karena aku tak bisa berontak. Aku tetap mendekapnya meski semakin hari semua menjadi lebih sulit. Aku hanya membiarkan lukanya menganga saat aku berteman dengan kesendirian. Aku tak kan mampu membukanya dihadapan rindu. Rinduku terlampau besar. Teramat besar untuk luka sepedih ini.
Akankah jarak berarti jika ruang saja tak punya dimensi? Apakah waktu masih saja mengejar? Betapa aku tergelak ketika tahu bahwa hati menembus logika. Ahh.. lagi-lagi aku belajar. Mungkinkah angin memahami kemarau? Aku hanya terkejut. Tak lebih dari itu. Atau mungkin aku juga sedikit ingin memahami.
Bisakah kita sekali lagi beradu dengan sepi, mungkin kali ini kita akan menikmati sendu. Bisa saja kita akan lebih memahami aku dan kamu. Bolehkah aku mendekap dalam hangatnya tawa, bisa saja kali ini aku bukan hanya aku dan kamu bukan hanya kamu. Bolehkah aku sekali saja berdiri diatas fiktif ???
Aku berulah dengan segala bimbang di dada. Berharap hal yang tak boleh ku harap. Aku sekali lagi ingin melanggar. Aku sekali lagi ingin taat saja. Aku telah cukup berupaya berdiam dalam kebiruan. Hanya saja kekeluan meleleh. Aku hanya tahu bahwa aku tak lagi punya takdir sebagai kunci. Aku t’lah ditinggal takdir. Entah berapa lama aku mendekam dalam kelam. Yang ku tahu pasti aku hanyalah raga yang entah berjarak dan entah di ruang apa.
Aku t’lah membiarkan semuanya terkubur begitu dalam. Mengikhlaskannya digilas. Menginjak kepingan-kepingan tentang sepi. Aku tak lagi diperbudak hati atau dipermainkan oleh logika. Aku berjalan dalam porsiku. Berdiri dengan pijakanku. Berlari dengan peluhku. Aku bukan lagi bunga dengan kaki kumbang. Aku hanya bunga yang layu, terjatuh, kemudian bertunas dan tumbuh. Perlahan-lahan aku menjadi akarku sendiri, kemudian menjadi batangku sendiri, menjadi daunku sendiri, menjadi rantingku sendiri, menjadi bungaku sendiri. Aku hanya harus layu dan terjatuh untuk memiliki segala yang ku impikan.
Dulu aku bertemu dengan sepasang mata. Aku beradu dalam pandang. Berujar tanpa kata. Memahami tanpa kata. Aku memandangnya sebanyak aku bernafas. Aku mendengar, bicara, berdiam bahkan bertengkar dengan matanya. Aku mengagumi kedua bola mata itu. Memujanya selayaknya ia adalah keyakinan. Aku terlarut dalam tatapnya hingga aku lengah hanya matanya yang ku miliki.
Hatinya t’lah membeku. Ia t’lah berpaling tanpa memalingkan matanya. Aku t’lah ditenggelamkan bersama teduh pesonanya. Aku menikmatinya tanpa tahu hanya aku yang mengagum. Aku t’lah kalah. Aku bisa saja memiliki tatapnya seumur hidupku tapi tak akan pernah bisa aku memiliki hatinya seperti dulu. Ia t’lah berpaling. Ia t’lah berucap tanpa perpisahan. Ia memaknai ku hanya dengan diam. Ia meluruhkanku hanya dengan diam. Sama seperti ia menggenggamku hanya dalam diam. Aku terpaksa merela. Melepasnya.
Kini aku t’lah buta. Tak lagi ku biarkan mataku berkelana dengan tulusnya. Tak lagi ku biarkan ia bertatap tanpa bertopeng. Tak ku biarkan kedua bola mataku menelanjangi hatiku. Ku simpan ia di balik keabu-abuan ku. Biarkan aku yang melihat seluruh debu dalam dada. Biarkan aku saja yang memahami suara dalam kepalaku. Aku takkan biarkan siapapun memiliki detak jantungku. Biarkan ia berdetak semauku, sesukaku, tak akan ku relakan. Aku t’lah terhilang bersama angin. Aku tak lagi senaif itu.
Aku t’lah beranjak. Berjalan kearah berlawanan. Aku tak lagi bisa kau temui kecuali saat kita sama-sama t’lah mengitari separuh bumi yang kudengar berbentuk bulat ini. Itu pun jika kau tetap berjalan ke depan. Aku berseteru dengan pagi yang terlalu singkat dan mengutuk malam yang terlalu lama. Aku tak lagi menjadi budak dari hati. Aku mulai tahu bagaimana meneriakkan namaku.
Aku mendustai hatiku. Membiarkannya terpenjara dan tertikam sepi. Bukankah memang harus ada yang direlakan? Ya. Aku pikir juga begitu. Aku merelakan hatiku untuk jiwaku. Aku menghidupkannya dengan mematikan hatiku. Biarkanlah aku berdebat soal apa pentingnya menjadi dingin. Dan pura-pura saja tak mendengar argumenku tentang betapa aku menyukai kesakitan. Biarkan saja aku yang terlanjur jatuh hati pada kesepian dan kekalutan. Aku malah tak ingin diperhadapkan lagi dengan detak yang membuatku berdebar dan merindu, mencinta.

Aku hanya mencoba-coba peruntunganku dengan dunia. Jika kakiku berpijak di tanah yang kokoh aku tak akan tersedot. Jika aku tanpa sengaja menginjak tanah lumpur aku tersedot namun aku masih punya tangan untuk merangkak dan meninggalkan kakiku dalam lumpur. Paling-paling aku hanya menangis dua tiga hari kemudian mencoba-coba lagi peruntunganku. Aku tak lagi mempercayakan diriku pada hati. 

Komentar

Postingan Populer