it's been a while

Apakah setiap orang benar-benar dilahirkan dengan takdirnya masing-masing?  Ketika ia di lahirkan kematiannya juga sudah digariskan Yang Maha Kuasa? Lalu apakah setiap kita hanya kurir yang menyampaikan pesanNya kepada manusia lain? Entah tugas-tugas tersebut tersampaikan atau tidak tersampaikan, benarkah kita memperoleh hadiah atau hukuman? Sejauh mana manusia bisa lari dari takdir yang katanya mengikat? Apakah cara kita mati kelak merupakan bayaran atas apa yang tlah kita kerjakan selama di bumi? Apakah masih ada pengampunan setelah penghakiman? Atau setiap kita hanya punya satu kesempatan hidup dan satu kali penghakiman? 
Bagaimana seseorang mati kelak bukankah hal ini sedikit mengganggu. Aku ingin tahu bagaimana kelak aku akan mati dan mengetahui penghakiman seperti apa yang ku dapat. Aku ingin tahu apakah reinkarnasi benar-benar ada. Apa tak mengapa aku menggangu Tuhan dengan pikiran-pikiran lancang ini? Apakah hal ini akan membuatNya tersinggung hingga Ia merasa aku meragukan keberadaaNya?
Aku bahkan tak berani berpikir bahwa Ia tak ada. Aku memahami dan merasa kehadiranNya, tapi terkadang jalan yang ku lalui membuatku ingin bertanya begitu banyak hal tentangNya. Apakah yang ku lalui tidak terlalu melampaui kekuatanku? Apakah Tuhan salah berharap padaku?
Jika aku diberi satu saja kesempatan untuk meminta satu permohonan kepadaNya selayaknya Aladin dan Jin botol yang mahsyur itu, aku akan meminta sendiri bagaimana caranya kelak aku akan mati. Lagi-lagi aku menguji kesabaran Yang Maha Agung dengan menyamainya dengan kisah konyol buatan manusia. Terlalu banyak hal yang ku lalui membuatku begitu banyak bertanya padaNya. Apakah dengan semakin menuanya seseorang ia akan semakin banyak berpikir dan mempertimbangkan segalanya dengan begitu hati-hati? Sepertinya memang aku mulai menua. Aku mulai khawatir pada hal-hal yang jauh di depan sana. Aku khawatir tentang bagaimana aku mati, bagaimana penghakiman untukku, bagaimana hidupku di masa depan, apakah semua mimpi-mimpiku terwujud, apakah kelak aku akan hidup kesepian tanpa seorangpun di sisiku atau aku akan dikelilingi orang-orang yang menyayangiku? 
Kalau saja aku benar bisa meminta caraku mati kelak aku ingin mati di antara orang-orang yang menyayangiku. Aku tak ingin mati kesepian tanpa ada yang menangis meraung-raung karena kepergiaanku. Aku benci dengan kesepian dan kesendirian ini. Aku lebih baik mati dengan pedang tajam terhunus di dadaku dari pada mati karena kesepian. Betapa beruntungnya akar meskipun ia tersembunyi ia justru semakin dekat dengan air dan zat hara sumber kehidupannya. Dia tidak seperti daun yang dilihat semua makhluk, atau seperti bunga yang indah yang di puja-puja setiap insan, tidak juga seperti batang yang kokoh tempat orang-orang bersandar. Meskipun ia bersembunyi jauh di dalam tanah bahkan orang bisa saja tidak menyadari keberadaannya, namun hanya ialah yang terdekat dengan sumber kehidupan, air dan hara. Daun yang rimbun, bunga yang indah, batang yang kokoh bergantung hidup pada akar yang seringkali diabaikan. 
Aku menyukai setiap ciptaan Yang Maha Kuasa, aku hanya benci saat aku merasa kesepian. Kesepian ini bisa saja menjadi tombak tajam yang membunuhku secara perlahan. Siapakah aku sampai berusaha menolak takdirku? Jika Engkau mendengarku, lepaskan aku dari rasa sepi ini.


Medan, 18 Februari 2017


Devilia Margaretha

Komentar

Postingan Populer